Friday, March 23, 2012

“Suara dari Seorang Ibu yang Mencinta”


Potongan Percakapan Minke dan Ibu Kandungnya dalam Tetralogi Toer; "Jejak Langkah"



“Sekarang aku mengerti kenapa hidupmu begitu tidak berbahagia, Nak. Kesalahanmu sendiri, tingkah lakumu sendiri”

“Asal kau tahu, itu yang kuhadapi sekarang. Seakarang ini. Asal kau tahu, itu yang membikin kau jadi sengsara seperti ini. Ah, anakku, kan sudah berkali-kali kukatakan: belajarlah berterimakasih, belajarlah bersyukur, anakku. Kau, kau, berlatihlah mulai sekarang, Nak, berterima kasihlah, bersyukur pada segala apa yang ada padamu, yang kau dapatkan dank au dapat berikan. Impian takkan habis-habisnya. Belajarlah berterimakasih, bersyukur, sedang kiamat masih jauh.”

“Kalau kau sudah dengar semua kataku, bangunlah. Kalau tidak, tetaplah bersujud di bawah kakiku, biar aku ulangi.”

“Sahaya sudah dengar semua, Bunda, Setiap patah takkan terlupakan, Sudahkan sahaya bunda ampuni?”

“Seorang ibu selalu mengampuni anaknya, biarpun anak itu seperti kau, yang baru pandai membangun kesengsaraan untuk dirinya sendiri. Aku datang terpanggil oleh kesengsaraanmu, Nak. Surat-suratku tak ada yang kau balas selama ini”

“Ampuni sahaya, Bunda”

“Kau selalu Kuampuni tanpa kau pinta pun, Nak. Kau selamanya membutuhkan ampun.”

“Bunda, ah, Bundaku sendiri…”

“Begini dekat aku, Nak, ka uterus juga memanggil-manggil. Di kejauhan kau tak pernah dengarkan pekikanku.”

“Ampun, Bunda.”

Aku sadari diri sedang tersedu-sedan dan mata basah. Aku seka mataku dengan setangan….

“Engkau tidak segesit dulu lagi, Nak. Kau banyak melamun, tak dengarkan kata-kataku. Carilah Istri, seorang gadis Jawa sejati, biar ada yang meringankan penderitaanmu. Jangan pikirkan yang sudah-sudah. Apa kau kira tak bakal laku?”

“Pulanglah kau nanti kalau liburan, pilihlah gadis mana saja yang kau sukai.”

“Jadi kau pulang pada liburan mendatang? Atau aku jemput?”

“Tidak perlu dijemput, Bunda. Sahaya akan usahakan.”

“Tidakkah kau menyayangi Bundamu ini?”

“Tak ada orang lain yang lebih sahaya sayangi Bunda.”

“Kau bicara dengan bibirmu atau hatimu?”

“Dua-duanya, Bunda.”

Suaranya yang lemah lembut menderu menyambarnyambar, lebih perkasa dari petirnya para dewa, lebih ampuh dari mantra semua dukun, suara dari seorang ibu yang mencinta...

Toer, P.A., Jejak Langkah, p 74-82

Sunday, February 26, 2012

Cooking Time (part 2)

Tempe Garit Bawang Uyah dan Tumis!

Setelah beberapa kali merencanakan masak-masakan lagi dan ndak jadi-jadi, akhirnya acara memasak bareng pun kejadian. Sebenarnya udah agak kemalaman sih, late dinner. Udah jam 19.30 saya baru berangkat dari kos menuju rasuna, acara masak-pun baru mulai jam 20.00 dibarengi rasa lapar yang mengusik nurani untuk segera memakan makanan yang udah matang.

Malam ini masak tempe dan tumis, saya sih kebagian masak tempe, sesuai kemampuan. Tempe garit bumbu bawang uyah! Ini menu favorit saya sejak kecil, ibu saya sering memasak ini untuk kami sekeluarga, masakan mudah, murah meriah dan tentu saja enak. Mudah bukan saja dalan artian mudah cara memasaknya, tapi juga cara dapetin tempenya.

Tempe Garit Bawang Uyah

Jadi caranya begini, cari tempenya dulu yang pasti, kalau mau yang enak, cari tempe bungkus daun yang segitiga, yang dibikin satu persatu. Biasanya diluarnya ada bungles kertas dan alat penguncinya bukan strapless, tapi biting yang di runcingi di kedua sisi trus ditusukkan agar lipatan bungkus kertas dan daun gak lepas. Berhubung agak susah nyari tempe bungkus daun di Jakarta, ada sih tapi bukan yang satu-satu, tapi yang gedhe, panjang gitu kayak yang bungkus plastik.

Kalau udah ada tempenya tinggal ditelanjangi deh, buka bajunya trus dipotong sesuai selera. Enaknya sih agak tipis dan motongnya miring, trus digarit garis disisi yang lebar, di sisi kanan dan kiri. Digarit itu disayat tipis-tipis dibentuk kayak sarang lebah, biar bumbunya lebih meresap. Setelah itu dimasukkan ke bawang uyah yang udah di ulek dan dikasih air dikit, paling gak biar tempenya bisa tercelup. Celup-celup, didiamkan sebentar, panaskan wajan beserta minyaknya dan goreng sampai berwarna kecoklatan.

Ternyata saya pun sudah tidak bisa menahan lapar, alhasil setiap mengangkat tempe dari penggorengan, satu tempe jadi korban, dicuwil trus dimakan sebagai camilan penahan lapar.

Tumis Gado-gado

Ini saya asal ngasih nama aja sih, yang masak Ani dan saya hanya bantu aduk dikit-dikit sambil memperhatikan bumbu dan caranya, belajar dikit. Saya kasih nama gado-gado soalnya semua bumbu dimasukin, mulai dari terong, jamur, kol trus apa lagi sampai saya lupa. Nah bumbunya itu cuman bawang putih, kalau gak salah bawang merah, trus cabai merah, semuanya cukup dipotong-potong dan tambahkan garam sedikit. Sangat-sangat berwarna, semua rempah masik tanpa diulek.

Jadi langkahnya berbagai bumbu itu ditumis, kurang leboh begini, masukkan minyak sedikit, trus cemplungkan semua bumbu, di goreng kering sebentar. Sampai beraroma yang jelas, jangan terlalu lama, setelah itu masukkan bahan baku yang lain, terong, jamur dan kawan-kawan. Tambahkan sedikit air biar agak berkuah, dan gak gosong pas ditumis. Sambil diaduk terus tentunya. Setelah agak matang masukkan tomat kalau suka, yang jelas akan lebih berwarna, ungu, hijau, merah dan putih!

Oh iya, ada yang hamper lupa, kebetulan kita berdua penggemar telur! Jadi dari kemaren masak pertama kali sampai sekarang ini selalu ada menu telur dan sekarang cukup telur godog yang tinggal memasukkan telur bulat-bulat kedalam air mendidih sampai matang, tandanya kalau udah matang sih, telur tenggelam, atau sebaliknya ya? Setelah itu diangkat dan siap disajikan, gak repot kan?

Sebagai teman ketika akan dimakan, bisa ditambahkan sambal bawang cabe hijau, atau saos kalau udah gak kuat nahan laper lagi. Untuk minuman bisa disajikan sesuai selera, the manis hangat kalau memang anda seorang jawa tulen, atau the tarik, jika melayu, atau jus biar lebih sehat. Atau bisa juga red wine kalau anda tidak bermasalah dengan minuman semacam itu. Nah, yang paling enak tentu saja dinikmati bersama keluarga atau orang terdekat yang dicintai, eaaaaa..

Selamat membaca dan jangan lupa ngiler kalau emang bener-bener kepengen, boleh dicoba juga sih…

Saturday, February 18, 2012

Menuliskan Indonesia (part 3)

Voila! Setelah beranjak dari Sumatera dan Jawa, saatnya ke Bali.


Bali adalah misteri, dalam arti yang sebenarnya. Masih banyak hal-hal yang belum terungkapkan disini, banyak mitos dan hal-hal mistis lainnya yang menjadi kepercayaan masyarakat Bali dan masih bertahan sampai saat ini, inilah keunikan Bali. Dan inilah Bali, ketika modernisasi melaju dalam balutan tradisi. Mungkin tdak ada daerah di Indonesia yang begitu banyak orang asingnya selain di Bali, yang bahkan orang lebih mengenal bali dibanding Indonesia.

Dimulai dari Kuta, tempat yang paling ramai dan paling dekat dengan Bandara Ngurah Rai, pintu masuk ke Bali selain pelabuhan Gilimanuk tentu saja. Kalau dulu, menuju ke Bali melalui darat harus mengantri dulu berjam-jam sebelum bisa menyeberang dengan kapal ferry dimana banyak anak yang siap terjun ke laut dengan lemparan koin seratus perak (pertama kali ke bali jaman SMU). Sekarang, ke bali hanya perlu satu klik pesan tiket di internet, bayar pakai kartu kredit atau ATM dan Voila!! Sudah bisa mendarat di Ngurah Rai yang begitu dekat dengan Kuta, Legian, Seminyak.

Bali Selatan, ini yang paling banyak dikenal oleh wisatawan, karena keramaian memang bisa ditemukan disini. Sebut saja Jimbaran tempat makan malam sambil menikmati sunset di bibir pantai. Atau Uluwatu, dimana kita bisa menikmati tari kecak bersamaan dengan tenggelamnya matahari di pinggir tebing samping pura uluwatu. Atau sekedar menikmati minuman dan snack di Rock Bar sambil menunggu sunset.

Ada lagi Nusa Dua, dimana tempat Konvensi International biasanya diselenggarakan. Hotel-hotel mewah begitu banyak dibangun saat ini, di Bali Selatan. Kita juga bisa menikmati bermacam-macam permainan air di Bali Selatan, parasailing, banana boat dan lain sebagainya. Atau kalau memang ingin benar-benar menikmati pantai, kita bisa hanya sekedar berjalan menyusuri pantai sambil ngobrol sambil menghabiskan waktu sore. Masih ada lagi sisi lain bali yang menarik, bali barat, bali tengah (ubud) dan juga bali utara. Saya belum pernah ke bali utara.

Oke, sedikit menyeberang ke Nusa Tenggara Barat. Tradisi yang sangat beda ditemukan disini, kalau di Bali mayoritas Hindu, di NTB mayoritas penduduknya muslim. Masih belum terlalu ramai disana, hanya beberapa titik yang saya pernah kunjungi, di senggigi dan tentu saja yang paling asyik adalah Gili’s. Tiga pulau kecil dengan pantai pasir putih yang begitu indah dan pemandangan bawah laut yang begitu ciamik.

Lain lagi di NTT, saya baru sekali menginjakkan kaki di Kupang, itupun hanya mampir tidur, karena hanya satu hari. Jadi ceritanya transit di Bali dan pesawat delay, sehingga sampai Kupang sudah sore dan paginya harus menuju ke Surabaya. Kesannya sih lebih gersang dan menurut saya lebih maju Lombok di banding Kupang. Mulai dari fasilitas Bandaranya (Bandara El Tari) dan juga suasana kotanya.

Saturday, February 11, 2012

Cooking Time




Ternyata sudah lama juga gak menyentuh dapur, setelah kepindahan dari rumah gathel di akhir tahun lalu. Ternyata dapur itu juga bisa bikin kangen, aromanya, kesibukannya dan kadang belepotannya itu yang ngangeni. Terus terang, yang saya suka dari rumah gathel salah satunya adalah dapur, meskipun agak belepotan dan sempit. Dapur itu tempat dimana kita bisa bereksperimen dengan sayuran dan rempah! Ya, rempah, mungkin beberapa orang menganggap remeh khasiat rempah namun benda inilah yang mengubah wajah dunia dengan kolonialisme yang konon diawali dengan perburuan rempah.

Dan akhirnya sayapun kembali bergumul dengan dapur, di apartemen Rasuna. Lumayan lah akhirnya ada yang sukarela membiarkan dapurnya saya ublek-ublek (istilah jawa yang saya gak tahu bahasa indonesianya). Thanks Ani yang udah menyediakan dapurnya, oh iya, Ani itu sepupu saya, hehe.. Dapurnya sangat komplit dan lega, bersih, sangat berbeda dengan dapur di #RumahGathel tempat saya tinggal sejak pertama kali menginjakkan kaki di Jakarta. #RumahGathel itu sebutan bagi kontrakan kami di setiabudi yang memang gathel, lingkungannya dan juga bangunannya.

Kompor di dapur cukup besar, ada 4 tungku atau apalah namanya, yang mengeluarkan api. Trus disampingnya ada kran yang digunakan untuk mencuci perabotan, kemudian di sebelah kirinya lagi ada tempat yang buat mengiris atau mempersiapkan bahan masakan. Dan diujung paling kiri ada kulkas. Jadi semua sudah ada dan mudah terjangkau, betul-betul surga dunia (mulai lebay). Maklum, dapur dirumah saya di jogja itu kecil dan semua peralatannya nyampur agak berantakan.

Nah, saatnya memasak, kebetulan beberapa hari yang lalu saya ke Semarang dan membeli Bandeng Juwana vacuum. Saya sengaja beli yang vakum agar bisa tahan beberapa bulan, karena memang saya “Dapurless” atau gak punya dapur, jadi harus nyari-nyari dapur yang bisa direcokin buat masak, dan itu butuh waktu dan kesabaran.

Bahan yang dibutuhkan gak banyak, hanya telur, sedikit garam, cabe merah dan sedikit ketelatenan dan kecintaan pada dapur, Ahay.. Bikinnya gak susah sih, tapi ceritanya panjang kemana-mana. Jadi ceritanya begini;

1. Bandeng ditelanjangi dari plastiknya, dikeluarkan paksa kalau agak susah, tenang gak ada yang namanya pelanggaran HAB (Hak Asasi Bandeng). Setelah itu, iris sesuai dengan kebutuhan, nah ini tugas saya untuk mengiris-iris. Mungkin tampang saya memang agak sadis, jadi cocok di bagian ini, pegang pisau lagi. Caranya tinggal disiapkan telenan (alas) dan pisau, kemudian eksekusi dimulai, bagi badan bandeng ke dalam beberapa bagian agak kecil biar bisa digoreng garing.

2. Nah, untuk bagian kocok mengkocok telur itu bagiannya ani, siapin mangkok dan sendok, pecah telurnya dan masukkan kedalam mangkok, trus kocoklah pakai sendok hingga merata bercampur antara kuning dan putih telur, sedikit berbuih sih biasanya. Trus kasih garam sesuai selera, jangan terlalu banyak sih, bandengnya udah agak asin, ntar jadi telur asin, gak enak dan gak baik juga bagi penderita darah tinggi.

3. Kalau mau sedikit berbeda tambahkan saja dengan irisan cabe merah, yang ini improvisasi karena kebetulan di meja ada cabai merah merona yang menggoda iman, keliatan ingin disantap. Setelah itu, ceburkan bandeng yang telah di iris ke dalam telur yang sudah dikopyok. Dan kemudian taburkan irisan cabai merah dalam adonan telur dan bandeng.

4. Langkah selanjutnya, sebenarnya bisa dilakukan simultan sih, panaskan penggorengan dengan sedikit minyak dan kalau ada mentega, bisa dipakai mentegabiar lebih beraroma. Aroma mentega goring itu maknyus, beda dengan aroma minyak goreng, ya iyalah..

5. Tunggu sampai minyaknya hangat, jangan terlalu gedhe apinya, nanti gosong. Jangan dipegang juga minyak gorengnya, nanti tangannya ikutan kegoreng *kriuk. Semua yang berlebihan itu tidak baik, termasuk api penggorengan yang berlebihan, bisa bikin gosong dan bikin panas ruangan dapur (keringetan). Ani menyebut memasak itu olahraga, ya karena berkeringat, bagi saya makan itu olehraga, karena berkeringat juga :p.

6. Kalau minyak sudah hangat, masukkan bandeng yang telah dilumuri telur satu per satu. Tunggu sampai agak kecoklatan kemudian dibalik, biar merata, biar adil, jangan berat sebelah nanti gak enak. Disini kita diajarkan manfaat dari bersikap adil, biar merata dan tentu saja agar enak masakannya #mendadakbijak.

7. Nah, kalau sudah tinggal diangkat dan disantap bersama dengan nasi hangat dari rice cooker dan sambal yang sudah satu paket dengan bandengnya.



Makan makanan yang dimasak dengan kehangatan persaudaraan itu bagaimanapun juga rasanya tak terlukiskan, enak lah pokoke. Mungkin inilah kenapa ketika saya masih kecil Ibu saya selalu menyuruh anak-anaknya untuk membantu beliau memasak. Masakan yang dimasak dalam kebersamaan itu rasanya beda, ada hal-hal yang lebih dari sekedar rasa makanan, ada nilai-nilai kebersamaan, keakraban rasa persaudaraan yang lebur dalam sebuah makanan. Yang jelas, memasak bersama keluarga itu memupuk keakraban, menjadikan hubungan keluarga menjadi lebih kohesif, apalagi setelah itu dimakan bersama-sama, sambil saling curcol, eaaa. Sekian, soalnya saya mendadak lapar..

Sunday, February 05, 2012

Jakarta dengan Tanda Tanya ??


Jakarta? Ada satu kata dari Om saya yang selalu terngiang tentang Jakarta: “Kalau bisa nyari uang di luar Jakarta, jangan tinggal di Jakarta, amit-amit.” Mungkin benar, selama ini dia tidak tinggal di Jakarta, bahkan juga tidak di Indonesia, mungkin Jakarta terlalu riuh, semrawut, kurang beradab. Apapun bisa dilakukan di Jakarta, konon yang tidak boleh di Jakarta itu hanya merokok di POM Bensin dan masuk masjid pakai alas kaki (sandal/Sepatu).

Lalu apa yang diharapkan dari sebuah kota yang begitu karut marut? Mungkin ini bukan hanya dialami Jakarta, namun juga kota besar lain di Dunia dan juga kota-kota besar lain di Indonesia, ketika hampir semua penduduknya pendatang dan hanya berpikir bagaimana mencari uang dan sedikit mereguk kebahagiaan dari gemerlap kota megapolitan.

Pertanyaan ini seringkali menghinggap, bahkan terlalu sering mungkin, bukan hanya bagi saya, mungkin juga beberapa orang yang tinggal di Jakarta. Lihat saja bagaimana mereka (orang-orang jakarta) meninggalkan Jakarta ketika akhir pekan tiba. Sesuatu yang bisa terlihat dengan mudah dari susahnya mencari tiket keluar kota ketika hari libur tiba, terutama ketika long weekend.

Belum lagi kalau melihat wajah-wajah sayu di dalam angkutan umum Jakarta, baik ketik berangkat kerja maupun ketika pulang kerja. Bagaimana tidak, sebagian dari mereka adalah komuter yang tinggal di sekitar Jakarta. Mereka berangkat ke kerja pagi buta dan pulang ketika malam tiba, hidup mereka habis di jalan. Belum lagi kalau hujan disore hari menjelang pulang kerja, jalanan menjadi parkiran raksasa yang menahan semua untuk diam sejenak seolah mengheningkan cipta.

Dan keheranan saya akan Jakarta bertambah ketka tadi siang datang ke Pameran Properti di JCC. Wow, harga property di Jakarta naudzubillah!! Kalau mau yang agak di dalam kota pilihannya apartemen aka rumah susun. Untuk apartemen dua kamar dengan luas 33m2 seharga 260 juta-an. Itu pun lokasinya di dalam, di daerah Pancoran dekat kalibata, di pinggir sungai. Begitu juga untuk lokasi di Jalan Pramuka, harganya gak terlalu beda jauh. Untuk di kawasan sekitar Cakung (Kantor Walikota Jakarta Timur) harganya lebih murah, sekitar 140 juta (subsidi).

Nah, kalau rumah, harganya sudah minta ampun untuk di dalam Jakarta. Rata-rata lokasi perumahan di Depok, Bekasi, Serpong, Tangerang, itupun dengan harga diatas 200 juta, untuk luas tanah 100m2 harganya di kisaran 300-400 juta. Kalau dengan kredit KPR 15 tahun, cicilannya sekitar 2-4 juta/bulan. Bayangkan saja 15 tahun baru lunas tuh rumah, itupun dengan cicilan yang tidak sedikit. Untuk PNS seperti saya tentu saja bikin pusing tujuh keliling, dengan gaji yang segitunya.

Mendadak teman bercerita tentang keinginannya untuk membeli tanah di Jogja dan membangun rumah disana. Ketika di jogja dia sudah survey beberapa tanah dengan kisaran harga 500-600 ribu per meter. Jadi kalau seratus meter persegi bisa didapat dengan duit 50-60 juta! Dan setahu saya, pengembang di sana gak terlalu mahal, apalagi kalau susah kenal dengan tukang dan kontraktornya, bisa dinego lah pokoknya. Katanya Jakarta itu buat kerja dimasa muda lah, tapi jangan berpikir untuk seterusnya di Jakarta, Kota seperti Jogja bisa menjadi pilihan setelah tuntas di masa muda.

Yak, mendadak keinginan untuk kembali di Jogja muncul kembali. Kalau Jakarta masih saja seperti ini, apa yang bisa diharapkan? Bukan hanya dari mahalnya property, tapi juga buat kehidupan anak-anak (emang punya?). Kata-kata itu kembali muncul: “Kalau bisa mencari duit di luar Jakarta, jangan hidup di Jakarta!!”. Jadi bagaimana Jakarta??

Friday, February 03, 2012

Tanpa Rencana

Apa yang tidak mengesankan dari sesuatu yang baru
Yang membuatmu tidak ingin meninggalkannya

Meskipun mungkin itu akan mempercepat rasa bosanmu
Rasa Bosan yang datang bersama keraguan

Tapi bagaimana kalau rasa bosan tak kunjung datang
Dan Keraguan menjadi harapan

Mungkin itulah cinta,
Yang datang tanpa rencana

Ketika sesuatu yang membosankan pun terasa menyenangkan
Ketika kau rela untuk melakukannya tanpa paksaan

Cinta tak pernah memaksa,
karena cinta datang tiba-tiba tanpa rencana

Apakah ini anugrah atau cobaan
Hanya Tuhan yang tahu

Apakah akan berakhir, atau menjadi kisah tanpa akhir
Hanya Tuhan yang tahu

Berdoa, mungkin itu yang bisa dilakukan selain berusaha
Dan merawat apa yang ada,

Menjalani tanpa keluhan
Melewati tanpa banyak tanya

Tanpa paksaan
Dengan kerelaan

Dengan senyuman
Tanpa rencana..

Saturday, October 15, 2011

sore di rumah buku



Rumah itu terletak di jalanan menanjak, Sebuah rumah kecil dengan beberapa sepeda motor yang parkir di halaman. Di bawah atap tertulis rumah buku, tulisannya begitu kecil. Mungkin kalau lewat dengan tergesa-gesa kau tak akan melihatnya. Entah kenapa tidak ada papan besar bertuliskan rumah buku sehingga orang yang lewat dengan tergesa-gesa pun akan melihatnya. Mungkin agar orang yang benar-benar berminat sama buku dan sangat ingin datang ke tempat ini yang singgah dirumah ini. Mungkin, saya juga tidak tahu mengapa, saya juga enggan bertanya karena suasana rumah ini begitu tenang. Bahkan tikus pun harus berbisik dirumah ini.

Namun siapa sangka kalau di dalam rumah itu tersimpan harta yang sangat berharga. Didalam rumah itu tersimpan ratusan buku, ya semua tentang buku karena rumah ini memang rumah buku. Mungkin bagi sebagian orang, buku hanyalah kumpulan kertas-kertas yang dijilid dan dibubuhkan deretan huruf yang menjelma menjadi kata-kata. Tapi buku lebih dari itu, buku itu jendela pengetahuan, Konon peradaban Islam bisa maju karena buku. Mereka melakukan proyek penerjemahan buku bangsa persia dan dilakukan dalam kurun kurang lebih 100 tahun. Dalam kurun itu juga ilmu pengetahuan berkembang. Lahirlah ilmuwan-ilmuwan islam termasyhur, Sebut saja Ibnu Sinna, Al Jabar dan lain sebagainya.

Dan rumah ini paling tidak menyimpan semangat yang sama dengan peradaban Islam yang begitu termahsyur itu, semangat mencintai buku. Disini, di dalam rumah yang disulap menjadi perpustakaan, tinggallah para buku-buku itu. Dari yang berbahasa asing sampai bahasa nasional kita. Tepat di depan rak-rak buku terdapat kursi sehingga kamu bisa mengambil buku di dalam rak yang ada dan langsung membaca didekatnya, tanpa perlu beranjak. Kalau mau suasana yang agak tenang, datanglah ke belakang rumah. Disana terdapat beberapa kursi dan hamparan rumput yang hijau. Kau bisa duduk disana dan membaca dengan tenang sambil menghirup udara segar yang dilepaskan dari daun tanaman-tanaman itu.



Dan sore itu, saya duduk di halaman belakang, membaca buku sambil sesekali melihat rumput hijau dan pohon cemara didepan saya. Benar-benar seperti dirumah, dan ketika magrib pun kau bisa mendengar adzan bersahutan, sesekali terdengar suara motor yang lewat di depan dan belakang rumah. Bahkan suara dari dapur pun terdengar, suara orang yang sedang mengiris sayuran untuk dimasak. Halaman belakang semakin gelap dan sunyi ketika kemudian kami melanjutkan perjalanan dan buku-buku itu masuk ke rumah mereka, rumah buku..

Rumah Buku..

Saturday, October 08, 2011

di pagi itu

Di pagi itu, aku mengirimkan sebuah pesan untukmu
Untuk bisa bertemu denganmu di sore itu
Sebuah pesan singkat yang hanya terdiri dari beberapa kata
Pesan yang sederhana, dengan deretan kata yang biasa diucapkan

Sampai sore ku menunggu balasan pesan itu
Dalam diam, dalam tanya yang tak ada habisnya, kenapa?
Kenapa tak kau balas pesan itu,

Mungkin kau begitu sibuk mengendalikan laju mobilmu
Mungkin pesan itu tersangkut di sebuah ranting pohon
Mungkin pengantar pesan itu mampir dulu ke rumah kekasihnya dan lupa
Lupa kalau ada pesan yang harus disampaikan

Mungkin..
Ya, semua itu mungkin,
Karena hanya Tuhan dan dirimu yang tahu kenapa..

Friday, October 07, 2011

Aku, Kamu dan kesetiaan dalam sebuah sepatu..

Aku ingin menyampaikan kepadamu sebuah cerita tentang kesetiaan,
sesuatu yang mungkin jarang kau temui dalam kehidupanmu,
atau mungkin kau tidak menyadarinya..
Ketika sebuah hubungan tak lagi personal dan menjadi sesuatu yang transaksional,
Mungkin hanya sepatu yang bisa menunjukkan kesetiaan, mengajarkan kepada kita tentang keihlasan dan kesetiaan.

Aku masih ingat ketika saat itu,kau berada di sebuah toko yang cukup besar,
Ukuranmu sangat mungil untuk ukuran toko itu,
Kau berada diantara puluhan atau bahkan ratusan pasang sebangsamu,
Berjajar rapi dalam etalase yang sengaja memperlihatkan dirimu,
Agar kau mudah tertangkap oleh mata dan diambil oleh tangan tangan mungil yang menginginkanmu.

Itulah saat dimana kau berusaha untuk memberi penampilan terbaik,
Dengan harapan memperoleh tuan yang baik,
Tuan yang menyayangimu, memakaimu dengan hati-hati, merawatmu, menjagamu.

Bulan pertama di toko itu adalah bulan terbaikmu,
Kau memperoleh tempat terdepan di toko itu,
Memperoleh kesempatan pertama untuk dipilih,
Dengan harga terbaik, meskipun semua uang yang dibayarkan bukan untukmu,

Tapi kau tetap berusaha tampil menjadi yang terbaik,
menjadi berbeda dengan yang lain,
menjadi the only one..

Ya, karena manusia ingin selalu menjadi yang pertama,
Memperoleh yang baru, mendapatkan yang bebeda dari yang lain,
Karena manusia butuh identitas,
menjadi beda itu identitas
Karena manusia memang diciptakan berbeda-beda

Seringkali mereka mendapatkan identitas mereka dari atribut fisik, seperti sepatu, baju atau yang lainnya.
Manusia sering tidak sadar kalau identitas melekat pada diri mereka,
Identitas itu ada pada perilaku mereka,
bukan pada apa yang mereka kenakan.

Manusia yang mendapatkan identitas dari atribut fisik seperti ini akan mudah bosan dengan sesuatu,
ingin selalu up to date dengan segala sesuatu,
ingin selalu yang terbaru
Mereka tidak akan berpikir kesetiaan,
tapi menjadi yang pertama,
bukan untuk menjadi yang selamanya.

Mereka berganti dari satu atribut ke atribut yang lain,
dari satu barang ke barang yang lain.
Ibarat cinta yang tak pernah usai memilih,
Selalu berganti pasangan,

Aku tak ingin bersama tuan seperti itu,
begitu ada yang baru aku akan ditinggalkan tanpa ada rasa terima kasih,
dicampakkan tanpa ada rasa kasihan.

Hingga tibalah saat itu, ketika kau memilihku,
Meski aku tidak lagi berada ditempat yang utama saat itu,
Tempatku agak dibelakang dan tertuliskan kata diskon diatasku,

Itulah diriku setelah beberapa minggu menjadi yang terdepan,
aku dipindahkan ke tempat yang agak ke belakang,
Bukan untuk dibuang, namun karena ada yang lebih baru,
Begitu juga hargaku, berganti menjadi harga baru yang lebih rendah,

Memang, seringkali kita harus merendah agar menjadi menarik,
turun harga atau diskon atau apalah istilahnya
Bukankah manusia juga begitu, harus bisa merendah,
Merendah Bukan berarti kalah, Bukan pula menyerah,
Tapi menempatkan diri sesuai dengan dirinya, tidak terlalu tinggi, tidak juga terlalu rendah, pas..

Begitu kamu memilihku,
aku tahu itu jalan hidupku, mungkin inilah yang disebit takdir,
aku akan dengan setia menemanimu tanpa lelah,
menjadi alas untuk kakimu yang mungil itu,
kaki yang kulitnya begitu halus,
terlalu sayang kalau dibiarkan tanpa alas kaki

jalanan yang kau lalui seringkali terjal, penuh kerikil tajam
dan aku menjaga kakimu dari kerikil yang menggores,
agar kakimu tak terluka, agar terjaga keindahannya

jalanan seringkali penuh dengan air, becek,
kadang juga dipenuhi kotoran yang tidak diinginkan
begitu juga kehidupan, penuh dengan kerikil tajam penuh dengan kotoran dan hal-hal yang tak kau inginkan

Tapi aku sudah berjanji dalam hatiku akan menjaga kakimu,
Meski dalam hujan, meski ketika air mennggenang, bahkan panas terik jalanan,
aku tak akan lepas dari kakimu

Sudah kodratnya sepatu sepertiku ini untuk dipakai tuannya,
untuk menjadi bermanfaat bagi pemiliknya, bagi pemilihnya
mungkin hanya politisi yang lupa kepada pemilihnya,
lupa tidak memberikan manfaat kepada pemilihnya yang telah mempercayainya,
atau memang benar-benar meninggalkan pemilihnya, eh, itu kan politik
padahal hidup akan menjadi berarti ketika bisa memberikan manfaat bagi orang lain, terutama orang yang memilihmu

Aku seringkali terharu, kalau manusia, mungkin aku sudah menitikkan air mata haru
karena seringkali kau terlalu sayang padaku,
Begitu hujan datang, ataupun ketika air menggenangi jalanan,
Kau melepasku dan menggantinya dengan sandal jepit lusuh itu
Karena kau tidak mau diriku terkoyak, rusak karena terkena air

Aaah, kau begitu sayang padaku,
begitu juga aku bertambah sayang padamu karena perlakuanmu itu
Beberapa temanku mengeluh karena tidak diperhatikan
Meskipun mereka sudah bekerja keras untuk melindungi kaki-kaki majikannya
Mereka rela basah terkena air, menjadi alas bagi kerikil tajam
Menjadi pelindung ketika panas maupun dingin

Tapi tuan mereka seringkali egois,
Mementingkan dirinya, kakinya, tanpa pernah merawat pelindungnya
Begitu ada kerusakan kecil atau warna kulit sepatu yang mulai memudar,
dibuanglah sepatu
Dicampakkannya dan diganti dengan yang baru

Tidak ada niatan merawat, memperbaiki ataupun menjaga
Seolah tidak ada rasa terimakasih karena kakinya telah di jaga bahkan dilindungi
Aaah, manusia seringkali egois, kecuali kamu..
ya mungkin hanya kamu yang begitu memahami sepatu..
kamu yang merawat sepatu
kamu yang masih mempercayai diriku untuk melindungi kakimu

meski aku sudah sedikit kusam dan badanku sudah mulai koyak,
tapi kau selalu mengobatiku, membawaku ke tukang reparasi itu
yang akan membuatku kembali utuh
aah, sepertinya kamu tak ingin melepasku
begitu juga aku yang tak ingin lepas darimu

mungkin inilah kesetiaan..
kesetiaan kamu dan aku yang saling menjaga dan melindungi..

Saturday, September 10, 2011

Dalam Doaku

Aku hanya ingin menyapamu malam ini, ya malam ini

Aku hanya ingin memejamkan mataku cepat-cepat, agar bisa bangun lebih cepat

Untuk kemudian duduk bersimpuh di dalam gelap dalam sepertiga malam ini, ketika semua sudah terlelap,

Dengan menengadahkan tanganku kumemohon, berdoa untuk kebaikan dan kebahagiaanmu kelak

Agar tak ada lagi air mata kesedihan yang tumpah dan mengalir melewati wajahmu

Agar tak ada lagi kegelisahan tak berkesesudahan yang menelusup ke dalam hatimu

Bukankah sepertiga malam terakhir adalah waktu yang mustajab? Waktu yang diutamakan untuk berdoa

Seperti halnya waktu antara dua khutbah dalam sholat jumat, tak pernah ku lupa mendoakanmu

Begitu juga waktu kosong diantara adzan dan iqomah dikumandangkan, konon itulah saat-saat mustajab

Pada saat seperti itu ku selalu menyempatkan diri berdoa, dan menyelipkan namamu dalam doa, memohon untuk kebaikanmu,

Mungkin memang hanya dalam doa-doa itu aku bisa menyapamu, menyebut namamu dengan lirih,

Tak pernah ku berteriak dalam doaku, bukan karena ku tak ingin mereka tau kalau aku selalu mendoakanmu, namun karena Tuhan itu Maha Mendengar

Ya, Tuhan itu Maha Mendengar, Tuhan selalu akan mendengar keluh kesah umatNya, harapan-harapan umatNya

Tuhan itu juga Maha Pemurah dan Maha Penyayang, karena itulah aku memohon dan memohon kepadaNya

Tuhan itu juga Maha Bijaksana, karena itulah aku memohon yang kebaikan yang terbaik, karena Tuhan tahu yang terbaik bagi umatNya

Tapi kalau kau tanya alasan sebenarnya kenapa aku tak pernah putus mendoakanmu, karena aku begitu mencintaimu, ya hanya karena itu, mencintaimu..

Dan aku tak pernah kecewa telah mencintaimu, bukankah cinta itu anugerah terbesar bagi manusia?

Pernahkan kau membayangkan betapa keringnya dunia tanpa cinta, tanpa rasa? Hampa! Seperti ruang angkasa yang kosong dan sunyi tanpa udara..

Friday, September 02, 2011

Menulis itu kayak Pup

Kalau meniru kata syahrini, keyboard itu adalah 'sesuatu'. Ada perasaan lain ketika menuliskan sebuah kata dengan menggunakan keyboard, suaranya dan ketukannya. Berbeda dengan ketika menulis menggunakan tablet, serasa ada yang kurang, ada yang hilang. Dan entah kenapa itu berpengaruh pada ide tulisan yang agak tesendat, seperti aliran sungai yang dipenuhi sampah, mengalir lambat.



Mungkin suara dan tekanan pada keyboard memberikan stimulus pada otak untuk bisa mengeluarkan celotehan seperti air bah yang mengalir deras menerjang semua yang menghadang dan menghempaskan apa yang menahan. Sementara tablet ini justru menahan, ngampet, kayak lagi kebelet tapi gak juga nemu toilet yang pas, toilet yang nyaman. Ya, bahkan buang air besar pun juga butuh toilet yang nyaman, kalau tidak nyaman, mungkin itu kotoran susah keluar. Begitu juga celotehan, kalau tidak menemukan media yang nyaman mungkin tidak akan keluar.

Mungkin ini analogi yang pas, menulis itu seperti buang air besar, kalau udah kebelet susah ditahan, tapi juga perlu tempat dan waktu yang pas. Pup di toilet rumah sendiri seperti apapun bentuk toiletnya pasti lebih nyaman, begitu juga dengan menulis. *(Saya pakai kata pup biar lebih ringkas). Menulis dirumah sendiri memakai komputer sendiri tentu lebih nyaman dibandingkan dengan meminjam komputer atau tablet orang. Dan pup waktu pagi tentu lebih mengasyikkan dibanding di siang bolong ketika suasana sudah berisik dan kulit mulai bersisik. Menulis juga begitu, waktu pagi lebih enak buat menulis, tenang dan menenangkan. Pup itu perlu rasa tenang, begitu juga menulis dan suasana rumah dipagi hari memberikan keduanya.



Ada banyak tingkah ketika orang-orang sedang pup, begitu juga ketika menulis. Ada yang bisa pup atau merasa lebih nyaman ketika pup sambil merokok. Ada yang pup sambil bernyanyi, ada juga yang lebih nyaman kalau pup sambil mengidupkan keran air biar gak kedengeran. Begitu juga menulis, konon lebih enak sambil merokok dan minum kopi, saya bukan perokok jadi gak tahu nikmatnya. Kalau menulis sambil minum kopi itu rasanya benar-benar Juara! Top markotop!

Bentuk closet juga menentukan, bagi saya closet jongkok itu sesuatu, jauh lebih enak dibanding closet duduk, apalagi closet duduk yg otomatis, pake sensor, merepotkan. Beberapa orang, saking fanatiknya bahkan jongkok diatas closet duduk, sampai ada tulisan di belakang closet duduk, "dilarang jongkok diatas closet duduk". Kalau dianalogikan komputer, tablet itu keren, lebih canggih, tapi menurut saya lebih nikmat menulis menggunakan keyboard di PC atau Laptop, ada keasyikan tersendiri disana yang tidak tergantikan oleh tablet!

Jadi yang namanya pup itu ya jongkok, itu kenapa pup sering disebut jongkok, dan mengetik tulisan itu ya di keyboard, klo di layar itu serasa kurang pas. Kayak pup di closet duduk yang serasa kurang nyaman dan susah keluar, ngetik dilayar itu kurang pas dan itu bikin ide susah keluar..

Itu sedikit kekatrokan saya, sampai bertemu lagi dengan ke katrokan yg lain...