Saturday, February 09, 2008

Lasem Sebagai Kota Ziarah

Kota Lasem merupakan sebuah kota tua yang penuh dengan peninggalan kejayaan masa lalu. Peninggalan bersejarah kota Lasem bukan hanya terkait dengan keberadaan etnis Cina yang sudah bermukim selama ratusan tahun dan diduga sebagai generasi pertama masyarakat Cina yang menetap di Jawa, namun juga terkait dengan keberadaan Sunan Bonang sebagai salah satu wali penyebar agama Islam di Jawa. Keunikan Lasem juga terletak pada kerukunan antara etnis Cina dan Jawa yang hidup secara berdampingan selama ratusan tahun. Mereka bahkan pernah bekerjasama mengusir penjajah dari tanah Jawa.

Keberadaan Lasem sebagai jalur masuknya pendatang Cina dan Agama Islam ke Jawa menjadikan Lasem kaya dengan peninggalan religi yang bersejarah. Peninggalan sejarah yang terkait dengan religi di Lasem bisa digolongkan dalam dua kelompok, yaitu terkait dengan agama yang dianut etnis Cina dan terkait dengan keberadaan Sunan Bonang sebagai salah satu wali penyiar Agama Islam di Jawa.



Klenteng dan Kopi

Di Pusat kota Lasem terdapat klenteng Bie Yong Gio yang didirikan pada tahun 1780. Klenteng tersebut didirikan untuk menghormati pahlawan-pahlawan kota Lasem dalam perang melawan V.O.C pada tahun 1742 dan 1750. Perang tersebut dipimpin oleh tiga orang, yaitu Raden Ngabehi Widyaningrat (Oey Ing Kyat) yang merupakan Adipati Lasem (1727-1743) dan mayor Lasem (1743-1750). Kemudian Raden Panji Margono, seorang Islam-Jawa yang menjabat sebagai Adipati Lasem 1714-1727. Yang terakhir adalah Tan Kee Wie seorang pendekar kungfu dan pengusaha di Lasem. Perlawanan tersebut berhasil dipatahkan oleh kompeni atas bantuan pasukan dari madura. Penghormatan terhadap seorang pahlawan Islam-Jawa menunjukkan kerukunan antar Jawa-Cina dan juga menunjukkan toleransi antar umat beragama yang cukup baik.

Setelah melakukan perjalanan napak tilas di klenteng Bie Yong Gio kita bisa beristirahat sejenak dan menikmati Kopi Lelet khas Lasem di warung kopi Pak Gendut yang terletak di samping klenteng tersebut. Di sebut kopi lelet karena endapan air kopi digunakan untuk membatik (nglelet) di batang rokok. Alat yang digunakan untuk membatik bukanlah canting yang sering digunakan untuk membatik di kain, namun batang korek yang ujungnya runcing. Caranya, minuman kopi dituangkan sedikit di piring alas cangkir. Airnya diminum hingga menyisakan endapan kopi, agar endapannya lebih kering digunakan kertas tissu untuk menyerap air. Endapan kopi kemudian dicampur dengan susu kental manis agar lengket, kemudian baru digunakan untuk ngleleti batang rokok. Keberadaan kopi lelet di Lasem menunjukkan kuatnya budaya membatik yang dimiliki masyarakat Lasem yang tidak dimiliki oleh masyarakat daerah lain.



Jejak-jejak Islam

Dari warung kopi pak gendut, kita kembali ke jalan utama lasem dan berjalan ke arah timur. Disinilah dimulai perjalanan untuk menelusuri jejak peninggalan budaya Islam di lasem. Di sebelah selatan jalur utama tersebut kita akan menemukan masjid Lasem yang beberapa saat lalu baru dalam proses pemugaran. Lebih ke timur lagi, akan kita temukan pondok pesantren Al-Hidayah yang didirikan pada tahun 1917 oleh Mbah Ma’sum. Beliau merupakan aktivis Nahdatul Ulama bersama K.H. Hasjim Asj’ari dan beberapa pendiri NU lainnya sejak tahun 1927. Pondok ini cukup terkenal dan banyak menghasilkan tokoh-tokoh nasional. Beberapa alumninya sekarang juga mendirikan pondok pesantren yang banyak tersebar di seantero Jawa.

Tidak terlalu jauh dari pondok Al-Hidayah akan kita jumpai petilasan Sunan Bonang yang terletak diatas bukit dengan pemandangan laut Jawa yang cukup indah. Petilasan tersebut merupakan tempat yang biasa digunakan Sunan Bonang untuk sujud. Disamping petilasan terdapat makam Putri Cempo yang menurut cerita merupakan istri Sunan Bonang. Sayangnya di sepanjang tangga menuju petilasan banyak terdapat peminta-minta yang kadang sedikit memaksa. Dari kompleks petilasan, masuk ke selatan, terdapat makam Sunan Bonang. Makam Sunan Bonang sangat sederhana, merupakan tanah lapang yang dikelilingi pagar. Makam Sunan Bonang terletak ditengah-tengah ditandai dengan tanaman mawar.

Lebih jauh masuk ke desa tersebut bisa kita jumpai Rumah Sunan Bonang yang masih terjaga keasliannya. Rumah tersebut terlihat sebagai rumah Cina. Hal ini sesuai dengan cerita yang berkembang di masyarakat bahwa Sunan Bonang merupakan keturunan Cina. Rumah tersebut saat ini ditempati oleh keturunan beliau. Di selatan rumah tersebut terdapat masjid peninggalan Sunan Bonang. Disana terdapat mimbar tempat khutbah Sunan Bonang yang masih asli. Selain itu, yang cukup menarik adalah sumur masjid yang berbentuk kotak cukup besar, tidak seperti sumur yang umumnya kita temui.



Akhir Perjalanan

Tentu masih banyak lagi peninggalan budaya dan sejarah di kota lasem yang bisa menjadi lokasi tujuan wisata ziarah. Beberapa diantaranya adalah klenteng di daerah Dasun yang dulu dikenal sebagai tempat pembuat kapal yang sempat diaktifkan kembali di masa penjajahan Jepang. Kemudian makam Cina (bong) yang merupakan makam leluhur warga Cina Lasem. Beberapa diantaranya adalah pahlawan Lasem dalam melawan penjajah. Di daerah perbukitan yang terletak di sebelah timur Kota Lasem juga terdapat Vihara Ratanavana Arama. Dimana jalan menuju puncak kompleks Vihara tersebut di penuhi dengan kisah perjalanan Budha mulai dari kelahiran hingga kepergiannya.

Sayangnya beberapa lokasi tersebut kurang terawat dengan baik. Bahkan banyaknya peminta-minta di sekitar lokasi petilasan dan makam Sunan Bonang bisa mengurangi kekhusukan peziarah. Hal ini menunjukkan bahwa masyarakat sekitar daerah tersebut sangat lekat dengan kemiskinan. Penanganan yang serius dari pemerintah dan pihak-pihak lain diperlukan untuk menjaga agar berbagai peninggalan itu tetap lestari dan tidak punah. Bahkan sangat dimungkinkan jika berbagai situs tersebut dipelihara dan dikelola dengan baik akan mendatangkan kemakmuran bagi masyarakat sekitar, bukankah semua agama bertujuan untuk membawa kemakmuran pada umatnya?


"Pernah dimuat di Suara Merdeka, Oktober 2007"